Ngomong Soal Ganja

Legalisasi ganja di Indonesia

Kemarin-kemarin ada berita orang ganteng terciduk ngeganja, terus anak-anak internet pada menyayangkan dia tersangkut masalah itu karena dia ganteng. Sebelumnya lagi ada wawak-wawak humoris juga terciduk perkara hal yang sama. Katanya penyalahgunaan narkoba.

Alasan si ganteng ini make narkoba katanya untuk membantu mengatasi masalah insomnia yang lagi dialaminya, memang bisa? Memang bisa karena ganja punya manfaat sebagai relaxant dan memang bisa mengobati insomnia, kecemasan, bahkan epilepsi. Loh loh, ya CBD nama zat kimia yang punya manfaat farmakologis itu. CBD dari mana? Ganja, terlepas dari varietas yang mana dan cara pakenya gimana yang penting ganja.

Mungkin dari kelen pernah baca buku Kriminalisasi Ganja, dan banyak yang mengangkat tangan tanda setuju untuk mendukung legalisasi ganja di Indonesia. Mungkin dari kelen juga tahu kalo ganja itu sangat banyak dikonsumsi, terlepas itu legal atau ilegal. Banyak klaim yang walaupun diragukan official atau tidak tapi semua orang tahu kalo secara budaya ganja dipake mulai dari Aceh sampai Ambon dan juga ga menutup kemungkinan Papua. Kalo ngomong riset, juga sangat banyak sekali riset tentang manfaat ganja ini baik dari segi kesehatan sampe industri. Mulai dari remeh temeh sakit kepala sampe produk yang ramah lingkungan yang akhir-akhir ini sangat digandrungi sama sobat-sobat SJW.

Tahun 2017 ada artikel terbit di The Jakarta Post ditulis sama Dania Putri dan Tom Blickman, mereka ngasih tau kalo regulasi ganja saat ini (kriminalisasi) lebih banyak mudharatnya dari manfaatnya. Karena apa? Karena kalo dilarang semakin menjadi-jadi. Memang iya. Kurang lebih itu juga yang selama ini dilakukan sama industri kefarmasian, kalo ada antibiotik yang udah ga efektif ya dibuat lagi yang baru. Kalo terus-terusan seperti ini bakal repot. Jadi solusinya ya dibuat regulasi bagaimana penggunaan antibiotik yang baik dan benar.

Gitu juga dengan ini, mirip-miriplah. Ganja tidak legal dan bakal ada inovasi-inovasi lain gimana caranya ganja bisa tetap tersebar dan dipasarkan. Terakhir heboh ada namanya Tembakau Gorila. Semakin dilarang ya semakin berinovasi, and they called it the balloon effect.

Mereka juga kasih solusi untuk permasalahan ini yaitu, perancangan regulasi untuk konsumsi dan produksi ganja berdasarkan konsep harm reduction. Which is, possible enough. Era sekarang yang sifatnya sangat dinamis, segala macam kekolotan bakal dengan cepat akan diperbaiki jika jalannya benar. Anything is possible.

Balik lagi pada ganja yang punya segudang manfaat dan merupakan aset dalam pengembangan di bidang industri dan kesehatan, ganja yang masuk dalam golongan I narkotika menjadikannya hanya boleh digunakan dalam penelitian dan riset tetapi tidak digunakan dalam terapi. Itu yang dikatakan UU RI Nomor 35 Tahun 2009. Semua setuju kalo penelitian akan berhenti atau stuck dan ujung-ujungnya kalo ga jadi referensi ya ga guna sama sekali jika tidak diaplikasikan. Sama kek skripsi kelen.

Ngomong-ngomong tentang ganja pasti ga asing sama yang namanya LGN, ya senior-senior ini udah menyuarakan suaranya sejak tahun 2010. Ga tau udah sejauh mana keseragaman visinya dan sampe mana milestone yang mereka capai. Paling tidak mereka mencoba kritis terhadap kriminalisasi sebatang ganja ini. Merekonstruksi pemahaman tentang sebiji tanaman ini. Mereka juga menelurkan produk bacaan tentang ganja yang mereka klaim berdasarkan hasil riset.

Intinya ganja bisa jadi manfaat dan menjadi aset bagi kemajuan Indonesia, dengan catatan pemberdayaan SDM dan regulasi yang mantap. Terus kalo ditanya, gimana mekanisme perancangan regulasi yang sok mantap itu? Yang menantang aturan yang selama ini ada dan udah ditetapkan berpuluh-puluh tahun. Jawabannya ya mana saya tahu, saya kan maba. Belajarlah sama yang udah-udah, negara-negara yang udah sukses sama regulasinya. Gitu.

Comments