Mahasiswa Stres

Mahasiswa Stres

Terlepas dari segala kebebasan, keistimewaan, kesempatan, dan hal-hal baik lain yang dapat diperoleh, mahasiswa adalah golongan yang rentan terhadap stres atau lebih spesifiknya stres akademik. Salah satu penyebab stres ini adalah tekanan tugas dan tuntutan kuliah yang berujung pada gangguan tidur, belum lagi soal keuangan, sosial, keluarga, dan hal-hal lain yang mulai harus diperhatikan pada rentang usia ini. Hal ini merupakan masalah yang umum bagi sebagian besar mahasiswa dari berbagai macam penjurusan dan konsentrasi.

Stres adalah hal yang nyata, yang membuat kita sadar bahwa kita hidup. Kembali ke fokus penyebab stres tadi salah satunya adalah tuntutan kuliah itu sendiri. Ini adalah sisi lain dari keistimewaan bagi siapa saja yang beruntung menyandang predikat mahasiswa. Hal ini terjadi bukan hanya di lingkungan sekitar kita saja, tetapi secara global. Pertanyaannya adalah, mengapa? Apakah ada yang salah dengan sistem pendidikannya? Jika iya, apakah seluruh dunia salah? Apakah stres itu sepenuhnya buruk?

Jika dilihat dari perspektif berbeda, stres adalah bagian dari proses pengembangan diri. Fakta bahwa sebagian besar dari mahasiswa di seluruh dunia ini mengalami stres menunjukkan bahwa hal ini adalah hal yang wajar. Buktinya cukup banyak penelitian dan artikel ilmiah yang membahas tentang ini. Namun tetap harus diperhatikan tingkatan, seberapa parahnya stres itu, dan bagaimana kita menanganinya. Afterall, stress is essential for survival.

Kenapa mahasiswa sangat rentan? Pola pikir yang sedang berkembang, faktor lingkungan, dan tuntutan akademik adalah beberapa penyebabnya. Penelitian oleh Awino, J. O. dan Agolla, J. E. dalam Educational Research and Review tahun 2008 menyatakan beberapa pemicu stres adalah ruang kuliah yang terlalu ramai, sistem semester, dan sumber daya yang tidak memadai dalam melaksanakan tugas akademik. Keharusan untuk mendapat hasil yang baik dalam ujian juga menjadi salah satu pemicu stres.

Berdasarkan Lakyntiew Pariat, dkk. dalam IOSR Journal of Humanities and Social Science tahun 2014, disebutkan bahwa penyebab stres berasal dari ekspektasi keluarga, ekspektasi pengajar, kompetisi sesama mahasiswa, serta jadwal kuliah dan jumlah tugas yang membludak. Menariknya, dua hal pertama tersebut adalah kontributor utama dalam memicu stres (ekspektasi keluarga 52,7%, ekspektasi pengajar 32,4%).

Ulasan oleh Ícaro J. S. Ribeiro, dkk. dalam Health Professions Education tahun 2017 menyatakan terdapat hubungan negatif antara stres dan kualitas hidup pada mahasiswa. Stres dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan mental. Faktor kelelahan, gangguan tidur, dan depresi dapat memperparah hubungan ini.

Fitri Eka Wulandari, dkk. dalam Jurnal Kedokteran Dipenogoro tahun 2017 menyatakan adanya hubungan antara tingkat stres dengan insomnia. Jika diperhatikan hal ini adalah suatu siklus yang saling berhubungan. Stres dengan tekanan kuliah berakibat pada kesulitan memanajemen waktu. Seringkali mahasiswa tidur larut malam untuk menyelesaikan tugas, lalu terjadi gangguan pada jadwal tidur, bagian parahnya lagi akan menyebabkan insomnia. Keadaan kurang tidur ini akan menjadikan mahasiswa sulit fokus, dan kembali menyebabkan stres. Harus dilakukan tindakan untuk menghentikan siklus ini sebelum berujung pada hal-hal yang lebih parah.

Bagaimana mengatasinya? Mungkin kita sudah sering mendengar yang namanya coping. Merupakan usaha yang secara sadar dilakukan untuk menyelesaikan masalah, menguasai, meminimalkan, atau mentolerir stres. Ada banyak tipe dan metode coping, melakukan pendekatan atau riset pada hal ini akan membantu kita dalam memanajemen stres.

Penelitian yang dilakukan oleh Cheryl Regehr, dkk. dalam Journal of Affective Disorders tahun 2013 menyatakan cara untuk menanggulangi stres berdasarkan CBT (Cognitive Behavioural Therapy) dan MBSR (Mindfulness-Based Stress Reduction) terbukti efektif dalam mengurangi stres pada mahasiswa, termasuk mengurangi tingkat kecemasan (anxiety) dan depresi. MBSR menggabungkan psikoedukasi, praktek mindfulness, dan membangun kesadaran atas kondisi diri. Pelatihan-pelatihan jenis ini sudah banyak di Indonesia.

Penelitian lain oleh Daniel K. Hosker, dkk. dalam Child and Adolescent Psychiatric Clinics of North America tahun 2019 menyebutkan keseimbangan antara aktivitas fisik, nutrisi, dan kualitas tidur sangat berpengaruh tidak hanya pada fisik tetapi juga mental secara keseluruhan.  Minako Abe dan Hiroyuki Abe dalam Personalized Medicine Universe tahun 2019 menyebutkan adanya hubungan antara empat hal dalam gaya hidup (nutrisi, tidur, aktivitas fisik, dan manajemen stres) terhadap kesehatan dan penyakit kronis. Jadi, hal yang penting disini adalah pola pikir dan selama kita masih dapat menyeimbangkan hal-hal ini, akademik stres adalah hal yang dapat diatasi.

Jadi untuk kamu yang masih dalam masa perkuliahan. Chill. Relax. Pergunakanlah waktu dan tenagamu dengan sebaik-baiknya, prioritaskan hal-hal yang penting, kerja keras, belajar giat, dan jangan lupa bahagia. Stres akan selalu menghampiri dan tidak perlu menghindarinya setiap saat, yang penting adalah bagaimana kita mengelolanya.

Caranya adalah kamu tetap disiplin terhadap diri sendiri, usaha, dan jangan terlalu memikirkan hal-hal yang tidak dapat dikontrol. Oh iya, usahakan jangan kurang tidur. Meskipun ini sulit untuk mahasiswa di beberapa jurusan. Yet it is easier said than done, yang terpenting adalah mencoba.


Tulisan ini saya tulis sebagai tugas saat mengikuti seleksi Internship Campuspedia Batch 5.0

Comments

  1. Hasil pengalaman, ternyata menunda dan belum terbiasa terhadap penyelesaian target-target, maka kata stress itu muncul..

    ReplyDelete

Post a Comment