SEO Tool Stack: Apa Saja yang Saya Gunakan sebagai SEO

SEO tool stack

Hal yang paling penting adalah bisa menggunakan tools-nya dengan sebaik mungkin—get the most out of the tools.

Tidak perlu subscribe semuanya, hanya beberapa yang penting dan memang dibutuhkan—kecuali kamu banyak duit.

Berikut adalah tool stack saya sebagai SEO.

Technical SEO

Karena fokus saya 2–3 tahun ke belakang adalah technical SEO, mari kita mulai dengan yang satu ini.

Untuk tools utamanya, kita punya:

  • Screaming Frog
  • Ahrefs
  • Sitebulb

Langsung saja.

Screaming Frog

Ini jadi tools paling sakti untuk technical SEO menurut saya. Mulai dari crawling, internal link checking, sampai spy competitor bisa dilakukan menggunakan tools ini.

Catch-nya dari tools ini adalah kamu harus beli lisensinya. Once kamu sudah pernah merasakan yang full version, versi gratisnya (free 500 URLs crawl tanpa data yang "penting") terasa seperti tidak berguna sama sekali.

Use case

Ada banyak sekali use case tools ini, saya sendiri mungkin punya puluhan. Namun, yang paling sering dan paling umum adalah:

Crawling (tentunya)
  • Scraping halaman
  • Custom extraction
  • Cek metadata
  • Cek status code
  • Cek schema
  • Bulk check image size

Apa pun itu yang berhubungan dengan bulk check/analysis bisa dilakukan dengan tools ini.

Rendering

Kamu bisa cek hasil rendering dan dapat screenshot-nya menggunakan tools ini, dan yang membuat tools ini lebih bagus dari Search Console adalah kita bisa lakukan secara bulk.

Tracking

Kalau kamu connect ke API, kamu bisa menggunakan tools ini untuk menarik data dari Search Console, Analytics, Ahrefs, PageSpeed Insights, LLMs, dll.

Cost

Harganya lumayan, $279 (sekitar 4,7 juta rupiah per tahun), tetapi worth it kalau kamu konsisten mengerjakan SEO sepanjang tahun, apalagi yang berhubungan dengan technical SEO.

Learning curve

Learning curve-nya lumayan curam, tetapi kalau kamu sudah terbiasa dan terus berlatih menguasai tools-nya, ini bisa jadi satu-satunya subscription yang kamu punya dan bisa cukup.

Penting untuk paham setiap fiturnya. Namun, harus dipelajari satu per satu dan disesuaikan dengan case yang kita hadapi.

Contoh:

Kamu ingin update semua artikel yang menggunakan "2025" di title, tetapi tidak punya list lengkapnya di mana pun. Kamu bisa crawl website dan menggunakan fitur custom extraction.

Kamu ada dapat list URL artikel yang menggunakan "2025" di title lengkap dengan data-datanya.

Ulangi hal ini sesuai dengan case baru yang kamu hadapi.

Belajarnya di mana?

Untuk mulai belajar, bisa cek user guide dan tutorial official-nya langsung di website mereka. Mereka juga punya YouTube channel yang berisi tutorial-tutorial penting.

Kamu juga bisa cek YouTube Search Agency. Konten-kontennya bukan bahas Screaming Frog, tetapi banyak use case yang dijalankan menggunakannya. Kamu bisa belajar dan langsung praktik, bukan sekadar tahu fungsi.

Ahrefs

Agak sulit sebenarnya memasukkan Ahrefs ke list ini karena Ahrefs hampir punya semuanya dan bisa digunakan untuk banyak sekali use case.

Use case

Ahrefs ini jadi core of the core proses SEO yang saya jalankan di Mustard (dan di project SEO sebelum-sebelumnya), tetapi kebanyakan digunakan untuk riset dan tracking. Namun, tidak mungkin kita exclude Ahrefs dari list ini karena fitur Site Audit-nya lumayan membantu dan menghemat waktu. Terutama kalau kamu tidak punya waktu untuk menunggu crawl Screaming Frog (kalau pakai yang offline).

Beberapa hal yang biasa saya lakukan dengan Ahrefs:

  • Internal link bulk check
  • Rank tracking
  • Orphan page
  • Canonical URL
  • Links to broken page

Kamu bisa mengintegrasikan Ahrefs ke Screaming Frog dan melakukan crawling plus mendapatkan data-data URL-nya dari Ahrefs langsung.

Ada banyak sekali data yang bisa ditarik sekaligus lewat integrasi ini. Kamu bisa cek detailnya di sini:

Cost

Ahrefs Lite harganya $129. Namun, menurut saya yang paling worth it itu adalah Standard plan-nya mereka—$249 (sekitar 4,2 juta rupiah per bulan).

Well, sebenarnya Standard plan ini agak overkill kalau dipakai untuk sendiri. Lagipula, fokusnya Ahrefs adalah bisnis, agency, atau enterprise, makanya range harganya agak jauh untuk solo marketer.

But yeah, kalau dipakai sering dan untuk kerjaan full time sepertinya masih oke.

Learning curve

Personally, saya merasa Ahrefs lebih intuitif dibandingkan dengan Semrush. Namun, tools satu ini punya sangat banyak fitur dan use case. Juga, mereka terus update secara berkala.

Jadi, workflow yang paling penting bagi saya untuk menggunakan tools ini adalah (sama seperti Screaming Frog) dengan melakukan sesuai case dan menggunakannya setiap hari.

Belajarnya di mana?

Again, sebaiknya googling ketika kamu punya case untuk diselesaikan. Selain itu, bisa di:

Sitebulb

Saya memasukkan Sitebulb di sini sebagai alternatif dari Screaming Frog. Lebih tepatnya alternatif Screaming Frog dengan visualisasi yang lebih enak dibaca dan beginner friendly.

Learning curve-nya tidak securam Screaming Frog, tetapi memang (dari ingatan saya setahun menggunakan Sitebulb di 2024) Sitebulb ini agak sulit kalau saya butuh solusi untuk case spesifik karena workflow-nya sedikit berbeda dengan Screaming Frog dan beberapa kali hasil crawl-nya tidak tepat (sempat raise ke CS-nya waktu itu).

Well, itu kan beberapa tahun lalu. Mungkin sekarang tools-nya jauh lebih baik.

Karena Sitebulb di sini adalah sebagai alternatif, kita tidak bahas banyak ya.

Technical SEO tools from Tame the Bots

Tame the Bots adalah website buatan Dave Smart yang menyediakan banyak free tools. Namun, yang paling sering saya gunakan ada 2:

  • Fetch and Render
  • Search Google Knowledge Graph

Untuk yang pertama, jelas fungsinya sama dengan yang di-mention di atas, untuk cek hasil rendering. Bermanfaatnya adalah:

  1. Tidak perlu log in seperti Google Search Console
  2. Bisa satuan (jadi, tidak perlu buka Screaming Frog)
  3. Hasilnya penuh satu halaman (tidak seperti Google Search Console yang hanya 2 × above the fold)

Tools kedua ini in a way sebenarnya lebih masuk ke content daripada technical, tetapi ya tidak apa-apa.

Yang jelas, tools ini untuk cek apakah suatu entity dikenali oleh Google (kalau ada knowledge graph-nya, berarti Google kenal).

View Rendered Source dan Rendering Difference Engine

Kedua ini adalah extension di Chrome. Jarang digunakan, tetapi cukup membantu kadang-kadang. Fungsinya buat cek dan highlight discrepancies between response HTML and rendered HTML.

Sebenarnya kita bisa cek dengan tools dari Tame the Bots, again, karena ini extension, lebih cepat.

Google Colab

Jelas, ini buat vibe coding kalau saya terlalu malas buka VS Code. Namanya Google Colab, ya bahasanya cuma Python (atau at least fokusnya ke Python, kecuali kamu programmer andal). Namun, Python ini memang yang paling sering digunakan orang SEO.

Enaknya Google Colab, dia jalan di browser dan kita bisa simpan filenya langsung di Google Drive.

Use case

  • Forecasting sederhana,
  • Bulk edit URL,
  • Bulk edit structured data, dll.

Selain itu, banyak juga task lain yang relate dengan SEO tetapi not really SEO yang bisa dibantu dengan menggunakan Python di Google Colab ini.

Cost

Gratis.

Learning curve

Mudah sebenarnya Google Colab ini, yang penting kamu harus belajar Python. Itu saja.

Belajarnya di mana?

Belajarlah sesuai use case kamu dengan bantuan AI.

Kalau mau belajar from scratch, saya punya YouTube Playlist.

Google Sheets → Google Apps Script

Ini tidak bisa dipungkiri lagi. Semua hasil crawl pada akhirnya akan diolah di Google Sheets. Plus, supaya kerjaan jadi lebih efisien, harus memanfaatkan Apps Script (selain formula, filter, dll.).

Saya biasanya membuat custom workflow dan memanfaatkan Apps Script, jadi kerjaan yang mundane bisa di-automate sedikit-sedikit.

Use case

Ada banyak case pribadi yang saya tidak bisa share file-nya, tetapi untuk dapat gambaran, saya menggunakan Apps Script untuk:

  • Bulk edit sheets
  • Bantu siapain Shopify template sheets
  • Automation sedikit-sedikit
  • Data pull (dari tools, tempat lain, maupun sheets to sheets)
  • Sheets integration (connect data dari sheets A → sheets B)

Cost

Gratis, yang penting punya email Google.

Learning curve

Apps Script itu JavaScript. Sebenarnya kamu tidak perlu jago, tetapi paling tidak bisa baca. Sisanya bisa minta bantuan ChatGPT, atau Gemini, atau Claude.

Belajarnya di mana?

Menurut saya, yang penting untuk belajar ini adalah cari use case-nya. Agak bingung kalau belajar dari dasar dan lama. But, tidak salah kalau kamu memang mau belajar coding dan ngerti JavaScript.

On page SEO

Ahrefs SEO Toolbar

Ini extension penting untuk quick check halaman. Namanya extension untuk SEO, kita pasti dapat fitur basic untuk cek:

  • title tag,
  • meta description
  • headings,
  • structured data,
  • Open Graph tags, 
  • alt text,
  • outgoing links,
  • tanggal,
  • word count, dst.

Selain Ahrefs SEO Toolbar, ada juga:

  • Detailed SEO
  • SEO Meta in 1 Click

Sebenarnya ada banyak lainnya, tetapi saya cuma menggunakan 3 ini. Menurut saya kurang lebih sama saja. Karena saya pakai Ahrefs untuk kerja sehari-hari, ya saya pakai Ahrefs.

Rekomendasi saya kalau tidak punya subscription Ahrefs (yang membuat extension-nya jadi kurang maksimal), saya rekomendasikan Detailed SEO.

SEO Tools | TechnicalSEO.com → Schema Markup Generator

Schema markup generator ini tools penting karena bisa mempercepat ketika mau menulis structured data.

Mereka menyediakan template untuk banyak structured data. Jadi, kamu hanya tinggal mengisi form dan dapat hasil jadi structured data code-nya.

Di case saya, yang sangat membantu dari tools ini adalah untuk membuat FAQ structured data. Jadi, kita tinggal mengisi pertanyaan dan jawabannya saja. Setelah selesai tinggal copy paste ke CMS.


Untuk on page SEO, tools lain yang saya kadang-kadang pakai adalah:

  • AlsoAsked
  • Microsoft Clarity (lebih ke analytics sebenarnya)

Sisanya saya biasanya manual, cek langsung UX-nya gimana:

  • Kalau kamu as a user, reaksinya gimana?
  • Apakah dapat apa yang dicari? Datanya lengkap?
  • Dari sisi growth, apa yang bisa di-improve?
  • Kontennya sudah bagus atau belum?

Di sinilah expertise dan taste sangat dibutuhkan.

Oh, bukan tools per se, tetapi sangat penting on page dan konten, Google Search Central docs:


Off page

Belakangan, saya juga mengerjakan aktivitas off page. Mulai dari reach out ke media, lihat peluang partnership dan kolaborasi dengan agency atau media, dst.

Hal yang paling utama yang saya lakukan adalah riset:

  • media mana yang kira-kira bisa meliput client,
  • media mana yang cocok untuk sounding atau exposure,
  • siapa orang yang bisa dihubungi di masing-masing media, dan
  • good old networking.

Tools utamanya hanya satu.

Ahrefs

Use case

Backlink gap analysis. Ini yang paling sering saya lakukan akhir-akhir ini.

Saya mengumpulkan beberapa info seperti:

  • website,
  • organic performance,
  • contact person,
  • apa yang bisa saya tawarkan ke mereka, dst.

Plus, tidak jarang media-media ini punya halaman advertisement. Ini bisa jadi salah satu jalur untuk partnership ke depannya.

Kalau butuh sesuatu yang lebih cepat, biasanya jalur ini lebih mudah karena ya, "ada duitnya".

Cost

Sama seperti di atas. Intinya harus punya plan Ahrefs.

Learning curve

Off page ini sebenarnya tentang bagaimana kita membangun relasi. Semakin bagus komunikasi dan soft skill kita, semakin mudah rasanya.

Dalam kasusnya, selalu, kita harus punya konteks dan bisa bawa value ke orang lain.

Belajarnya di mana?

Biasanya saya belajar langsung dan bertanya ke teman yang expert dalam hal ini, Helmi Shemi.

Lalu, bacaan dan course andalan saya untuk hal ini:

Yup, mulai saja dari dua resources di atas. Sisanya nanti kita akan terbiasa dan bisa mengembangkan strategi sendiri.

Untuk part soft skill-nya, bisa cek Slow Leadership punyanya Andrew Prasatya.

Banyak bit-sized insights yang bisa langsung dipraktikkan dan sedikit banyak sangat membantu dalam hal ini.


Selain Ahrefs, saya juga sering cari manual lewat forum, group, atau komunitas. Scouting dan reach out langsung di LinkedIn juga bisa.

Kalau buat yang baru mulai, saran saya bisa cek Telegram DailySEO ID.


Analytics

Data adalah salah satu atau bahkan hal yang paling penting dalam SEO.

Saya pernah menulis tentang pentingnya skill data analytics. Kali ini kita bahas tools-nya (yang saya sendiri pakai).

Google Analytics

Use case

Sebenarnya tidak harus Google Analytics. Saya pernah melihat beberapa perusahaan menggunakan tools lain seperti Adobe Analytics. Namun, Google Analytics tetap jadi “tools sejuta umat”.

Umumnya digunakan untuk:

  • jumlah user,
  • engagement,
  • demografi,
  • conversion, dst.

Cost

Google Analytics itu gratis. Tinggal install, dan biasanya cukup mudah, apalagi kalau website kamu menggunakan WordPress. Ada yang namanya Site Kit.

Learning curve

Learning curve-nya tergantung kebutuhan. Bisa mulai dari yang basic seperti traffic dan engagement saja, sampai ke level yang advanced seperti cohort analysis atau funnel.

Saran saya, coba pelajari fitur explorations-nya.

Belajarnya di mana?

Mulai dengan install dan coba tools-nya. Di dalam tools ini, kamu hover saja ke setiap metriknya, nanti akan ada link yang bisa dikunjungi. Explore satu per satu. Selain itu, sudah ada built in AI yang bisa kamu tanya-tanya.

Kalau kamu mau belajar dari basic, bisa mulai dari Analytics Help.

Google Search Console

Use case

Tools wajib lainnya kalau kamu punya website, dan biasanya ini sepasang dengan Google Analytics.

Kalau Google Analytics mengukur apa yang terjadi di website, Google Search Console mengukur apa yang terjadi di SERPs.

Paling umum adalah untuk cek:

  • indexation,
  • impressions,
  • clicks,
  • halaman apa yang muncul untuk keywords apa,
  • muncul di search results yang mana saja (umum, discover, shopping, etc.), 
  • overall visibility halaman website kita di Google, dll.

Tools sederhana, tetapi jika kamu paham luar dalam akan sangat berguna. Banyak data yang bisa digali dari tools ini sebenarnya.

Cost

Gratis!

Learning curve

Instalasinya juga cukup mudah.

Belajarnya di mana?

Google Search Central punya dokumentasinya, selain itu kamu juga bisa akses Search Console Help.

Bing Webmaster Tools

Use case

Selain di Google, saya juga ngukur performa di Bing. Karena Bing adalah search engine terbesar setelah Google (dengan market share sekitar 4% saja).

Objectively speaking, Bing ini search results dan fiturnya sebenarnya lumayan.

Yup, Bing Webmaster Tools ≡ Google Search Console:

  • indexation,
  • impressions,
  • clicks,
  • halaman apa yang muncul untuk keywords apa.

Cost

Gratis!

Learning curve

Sama seperti Google Search Console, saya rasa Bing Webmaster Tools ini cukup mudah digunakan.

Belajarnya di mana?

Kamu bisa mulai dari Webmaster How-To-Center

Ahrefs Rank Tracker

Use case

Saya pakai ini mostly karena kerjaan yang menuntut untuk memperhatikan main keywords dan SoV.

Cons-nya adalah data Rank Tracker hanya di-update seminggu sekali. Jadi, kalau ingin melihat data ter-update, tools ini kurang tepat untuk digunakan. Lebih baik menggunakan Keywords Explorer. Namun, ya, tujuan utama tools ini adalah supaya kita tidak perlu manual cek satu per satu semua keywords yang kita track menggunakan Keywords Explorer.

Cost

Rank Tracker ini adalah bagian dari suite-nya Ahrefs. Kamu harus subscribe, minimal Starter plan.

Learning curve

Sangat mudah digunakan.

Belajarnya di mana?

Project management

ClickUp

Kalau ada satu cons yang bisa di-highlight dari ClickUp adalah: lemot.

Ini subjektif, sih. Antara laptop saya yang lemot, terus buka di Chrome bersama dengan puluhan tabs yang lain, karena pakai versi lama, dst.

But overall, hampir setahun dipakai (karena di kantor pakainya ini), jadinya nyaman. Bahkan saya gunakan juga untuk pribadi di rumah (versi gratisnya).

Use case

Mulai dari:

  • task biasa,
  • recurring task per hari, per minggu, atau per bulan, dst.,
  • track waktu kerja,
  • voice note,
  • record video,
  • simpan file,
  • planner, dan dashboardnya, dll.
Intinya basic-basic project management tools.

Cost

Untuk cost, biasanya dibayari kantor. Plus, sebenarnya kalau buat pribadi yang gratis sudah cukup.

Learning curve

Ini agak membingungkan awalnya. Terutama buat yang belum terbiasa dan nyaman hanya dengan simple sticky notes atau checklist.

Bagusnya adalah ketika kamu sudah terbiasa menggunakan tools ini di kerjaan. Mau tidak mau, bisa tidak bisa, akan tetap bisa.

Jadi, kalau ingin digunakan di luar kantor, tinggal disesuaikan kebutuhan dan skalanya.


Selain ClickUp saya juga pernah pakai beberapa yang lain:

  • Notion
  • Google Workspace
  • Asana
  • Lark
  • Mattermost
  • Trello

Overall, pada intinya semuanya adalah project management tools. Jadi, pilih saja satu yang paling nyaman.


Belajarnya di mana?

Langsung dicoba saja. Menurut saya tidak perlu dipelajari gimana-gimana.

Lain-lain

Gemini

Selau pakai model yang Pro (saat tulisan ini ditulis, Gemini 3.1 Pro). Saya subscribe Google One, dan seingat saya ini sekalian dengan Google AI Plus.

Bedanya apa dengan yang biasa?

Sebenarnya cuma quota penggunaan yang lebih banyak saja—termasuk untuk Nano Banana (image generation) dan Veo (video generation). Kalau yang gratis kan sebentar-sebentar sudah limit.

Use case

Banyak sekali manfaatnya, tetapi saya biasanya menggunakannya untuk:

  • Bantu coding (saya pakai Python dan Apps Script),
  • Brainstorming,
  • Belajar (via NotebookLM), dll.

Cost

Gratis. Rp75.000/bulan untuk yang Plus (biasanya banyak diskon). Rp309.000/bulan untuk yang Pro.

Learning curve

Hal yang paling penting dalam menggunakan AI (or in this case, LLM) ini adalah jadikan tools ini sebagai tools. Jangan mendelegasikan proses berpikir ke AI. Kamu yang berpikir, dan kalau butuh brainstorm, kamu gunakan AI.

Selanjutnya adalah prompt yang bagus adalah prompt yang jelas.

Prompt yang jelas berasal dari pemikiran yang jelas. Jelas kamu mau menyelesaikan apa dan ingin AI membantu dalam hal apa, bagaimana, dst.

Jadi, yang diperlukan di sini adalah critical thinking. Don't delegate the thinking, delegate the task—jangan lupa kasih konteks, data, dan arahan ke AI.

Belajarnya di mana?

Google menyediakan banyak sekali course tentang generative AI. Kamu bisa mulai dari Google Workspace Learning Center.

ChatGPT

Obvious ini, tidak perlu dijelaskanlah. Walaupun akhir-akhir ini mulai tergantikan oleh Gemini. Intinya, saya menggunakan ChatGPT sama seperti saya menggunakan Gemini.

Itu saja. Semoga bermanfaat.


Punya pertanyaan atau ingin diskusi? Silakan berkomentar di bawah atau reach out saya di LinkedIn.

P.S. Jualan sedikit, saya punya resources belajar SEO yang cocok untuk pemula maupun yang sudah berpengalaman beberapa tahun buat refreshing. Resources ini adalah catatan dan konten hasil kurasi saya buat belajar SEO.

Harganya cuma setara segelas kopi di franchise coffeeshop hijau pada umumnya. Bisa kamu pelajari lebih lanjut di sini → SEO learning resources and notes.

That's it. kthxbye.

Komentar