12 +1 Pelajaran Buat yang Kerja Remote

Tips kerja remote

Saya sudah 5+ tahun kerja remote, dan along the way, ada banyak pencapaian yang saya raih, tetapi ada juga kesalahan yang saya buat. It's not always sunshine and rainbows 🌈

Oleh karena itu, di mana kerja remote sekarang adalah sebuah privilege, saya mau bagi beberapa pelajaran (atau lebih tepatnya tips) buat kamu yang masih berkesempatan untuk kerja remote dan juga buat kamu yang ingin kerja remote supaya bisa menghindari kesalahan.

Banyak orang yang take it for granted, jangan jadi seperti mereka

Yup, ada banyak kasuslah di mana privilege ini disalahgunakan. Di kerjaan remote ini yang bisa dipegang cuma kepercayaan. Jadi, ya di-nurture.

Ketika employer sudah mulai tidak percaya, saat itulah kerja remote berubah jadi jauh lebih ribet daripada kerja on-site:

  • Harus tracking jam kerja
  • Harus ikut banyak meeting yang sebenarnya tidak perlu
  • Semua hal kecil butuh approval
  • Harus overdokumentasi (sebenarnya dokumentasi itu harus, tetapi kalau over ya jadi tidak sehat)
  • Ended up pakai software monitoring yang invasif (harus screenshot tiap beberapa menit)

Dan ingat, semua kerjaan bisa di-trackback. Ini penting dan saya akan bahas di poin selanjutnya.

Be an adult to be treated like an adult

Kalau bos kamu dari awal sudah bersikap dan menganggap kamu bisa diandalkan, jangan sia-siakan. Kamu sudah di posisi yang tepat.

Di company yang sekarang, saya belajar banyak, up and down. Di bulan pertama, saya dipercaya penuh. Bulan kedua, saya diingatkan. Masuk bulan ketiga, saya improve lagi dan lumayan steady.

Setahun ke belakang ada 2 bulan (termasuk bulan kedua ini) di mana saya merasa saya di-treat tidak seperti orang dewasa, ended up di-micromanage.

Kabar baiknya, sekarang-sekarang ini saya sudah improve (based on my own PoV). Saya dan bos beberapa kali diskusi tentang ini dan baiknya bos juga setuju dia harus improve juga cara manajemennya. See, communicate.

Intinya ya, jangan ilang-ilangan. Be an adult to be treated like an adult. You're here to work, and they trusted you.

Tied to the money, always

Seperti bekerja pada umumnya, kamu dibayar untuk menghasilkan dan bermanfaat. Kalau bisa, hitung berapa ROI kamu.

You can't just do busywork or clock in and be at your desk from 9 to 5, yang dilihat adalah output.

Tips penting: ruthless prioritization!

Create your own day structure

Beberapa kantor yang remote tidak peduli kapan kamu clock in clock out, dan inilah esensi kerja remote sesungguhnya.

Buat yang punya anak, kamu bisa antar anak sekolah di pagi hari sebelum mulai kerja atau spend waktu dengan mereka di siang hari (kalau belum sekolah).

ATAU, kerja remote sebenarnya tidak harus di rumah. Seperti kata Ben:

Kamu bisa sewa coworking space, kerja di cafe, di mana yang kamu mau dan bisa produktif.

Intinya, privilege.

Tetap, harus bisa keep up dengan deliverable.

Tips dari saya:

Stick to a routine

Karena rumah menjadi kantor, batas antara istirahat dan kerja jadi blur. Buat yang punya dedicated space atau home office, ini beruntung banget dan harus dimanfaatkan.

Coba bikin routine, misalnya, bangun pagi langsung bikin kopi → artinya harus clock in → mulai dengan bikin to do list → baca email, dst.

Atau, tiap pagi setiap selesai antar anak ke sekolah, mampir ke coffee shop buat ngopi sambil kerja, dll.

Banyak cara, ada yang prefer gym atau olahraga pagi, ada yang siang.

Ada yang ngurus rumah terlebih dahulu, once anak-anak sudah pergi sekolah, baru mulai kerja.

Intinya, jadwalmu harus predictable. Kalau tidak seperti itu, kalau hari-harimu selalu acak, bisa cepat burnout.

Time blocking

Tentukan kapan kamu perlu deep work, dan jangan lupa kasih tahu orang rumah dan orang kantor.

Block waktumu sendiri di kalender. Kalau memang tidak perlu, tidak usah ikut meeting, dsb. Intinya dikomunikasikan.

Use AI

Barang siapa yang tidak memanfaatkan AI di pekerjaan sehari-harinya, dia berpotensi besar untuk tertinggal.

Gunakanlah AI jika:

  • bisa membantumu jadi lebih efektif,
  • membantu mengerjakan pekerjaan manual dan mundane, serta
  • membantumu belajar dan brainstorming lebih cepat.

Nuance-nya memanfaatkan AI di pekerjaan ini adalah kamu harus paham basic tentang AI itu sendiri. AI itu probabilistik, tidak imun terhadap halusinasi dan ini bukan soal siapa yang paling cepat mengadopsi AIharus diperhatikan kebutuhannya.

Banyak orang salah kaprah menganggap AI itu sesuati yang ajaib, serba bisa, serba ngerti. Padahal, tetap butuh skill untuk QA hasil yang di-spit oleh AI.

Lalu, jangan ketika semua orang install OpenClaw, jadi ikut-ikutan padahal tidak ada urgensinya dan tidak tahu use case-nya untuk apa. Ask "Why?".

Coba ikuti kuliah dari Laurence Moroney ini, bagus banget untuk memberikan gambaran bagaimana seharusnya penggunaan AI yang benar (skip ke menit 59):

Semoga dapat gambaran bagaimana harusnya penggunaan AI yang benar seperti apa.

Di case saya, saya menggunakan AI (atau dalam konteks ini Gemini) untuk:

  • Bantu coding (saya pakai Python dan Apps Script),
  • Brainstorming,
  • Belajar (via NotebookLM), dll.

Banyak pekerjaan mundane dan repetitif di technical SEO dan menggunakan AI harusnya membuat saya bekerja lebih efektif. AI adalah tools, kamu harus melakukan final check.

Overcommunicate (with context)

  • Escalate things that need to be escalated
  • Jangan berasumsi, bertanya
  • Acknowledge kalau kamu sudah baca pesan orang lain (kasih emot, "noted!", atau apa gitu)
  • Kalau tahu bakal delay atau f*ck up, kabari, jangan nunggu kejadian
  • Kalau mau ilang (deep work), kabari
  • Kalau schedule perlu digeser, kabari
  • Bakal miss deadline, kabari
  • Sakit, kabari

Response rate itu penting, harus cepat dan jelas karena ga ada lagi yang bisa diandalkan

Kamu tidak bisa bangun dari tempat duduk dan mampir ke meja rekan kerja—kecuali sedang WFC. Jadi, kalau orang lain bertanya kepadamu, mereka tidak ada pilihan lain selain menunggu kamu membalas pesan.

Oleh karena itu, response rate yang baik dan cepat adalah satu-satunya cara untuk menunjukkan bahwa kamu "ada" dan reliable.

Response rate cepat juga bukan berarti kamu harus siap sedia 24/7. Intinya, ketika di jam kerja, kamu tidak "hilang".

Jika kamu butuh waktu untuk deep work, kabari.

Ditanya sesuatu yang kamu tidak tahu dan perlu riset dulu, kabari kalau akan riset dulu sebentar.

Keep everyone in the loom, jangan sampai muncul pertanyaan "Ini dia ke mana dah?".

Underpromise

Sebagai SEO, pasti ada saat di mana klien meminta hal yang sebenarnya mereka sendiri tidak 100% paham. Contoh, Knowledge Panel.

Pernah suatu ketika klien meminta saya agar brand-nya punya Knowledge Panel (yang mereka kira adalah Google Business Profile), dan ini bukan hal yang bisa dikontrol 100%—tidak ada switch on/off untuk fitur otomatis satu ini. Plus, klien meminta deadline kapan mereka bisa lihat Knowledge Panel mereka sendiri.

Alih-alih menjanjikan kalau brand-nya akan punya fitur SERP ini dalam waktu beberapa minggu atau bulan, saya memilih untuk underpromise dan mengedukasi mereka.

Walaupun tidak bisa kontrol 100%, saya jelaskan upaya apa saja yang bisa dilakukan agar brand-nya punya Knowledge Panel.

Saya juga menjelaskan kalau Knowledge Panel ini sebenarnya adalah byproduct dari SEO activity yang memang saya kerjakan.

At the end of the day, semua orang ingin Knowledge Panel. Namun, tidak tahu kapan Google confident terhadap data suatu brand dan men-trigger fitur ini. Oleh karenanya, saya mengatakan kepada mereka dan mengingatkan despite sudah dilakukan semua hal yang saya jelaskan, ada kemungkinan mereka tetap tidak punya Knowledge Panel—hence, tidak akan ada deadline-nya.

Daripada pusing mengerjar hal yang di luar kontrol, lebih baik fokus ke yang lebih penting. 

Selain itu, tips lain terkait underpromise adalah jangan underestimate sebuah task.

Ketika ditanya deadline atau butuh berapa lama mengerjakan suatu task, selalu overestimate waktu yang kamu butuhkan.

Apalagi soal technical SEO, sering kali yang perkirakan bisa selesai dalam 2 jam (menarik data atau meng-update Apps Script) ended up butuh lebih dari itu karena potensi error, bug, atau proses yang perlu di-adjust.

Ingatlah selalu dan lakukan, underpromise and overdeliver.

Deliver, deliver, deliver

  • Pursue excellence
  • Harus ada barang jadinya
  • Harus ada hasil
  • Done is the most better than perfect
  • Deliver berarti menyelesaikan apa yang dimulai
  • Deliver berarti output-nya bisa dipakai (even only to some degree)
  • Deliver berarti konsisten

Document everything

Ini hal yang penting yang saya sering lihat orang lain lewatkan, dan saya juga termasuk salah satunya di awal-awal kerja dulu.

Esensi dari kerja remote adalah bisa kerja asynchronous. Supaya bisa efektif, kamu harus dokumentasikan pekerjaanmu sampai di level ketika orang lain melihat dokumentasinya, mereka:

  • mudah mengerti apa saja yang dikerjakan,
  • konteks di belakangnya, dan
  • bagaimana kamu bisa sampai di kesimpulan (atau status end product) saat ini.

Ini penting untuk 2 hal (berdasarkan pengalaman pribadi):

  • Bukti kalau kamu kerja dan kerja dengan benar
  • Untuk di-share ke orang lain kalau-kalau kamu libur atau cuti
  • Penyelamat diri sendiri di masa depan

Terang saja, banyak proses yang dilakukan (di konteks saya sebagai SEO) dan tidak jarang melibatkan logic yang "rumit". Punya dokumentasi proses ini penting untuk menghindari lupa.

Misalnya, kalau tidak ada dokumentasi atau comment yang jelas soal suatu proses atau logic ketika saya membuat automation atau menulis Apps Script, akan jadi sangat memusingkan beberapa bulan kemudian ketika prosesnya perlu di-update. Hitung-hitung investasi kewarasan di masa depan.

Dokumentasi di sini juga tidak terbatas hanya tulisan, kamu bisa:

  • record short video via Loom untuk menjelaskan tutorial,
  • membuat wiki seputar pekerjaan, tools, proses,
  • meninggalkan komentar dan konteks di setiap task yang kamu selesaikan, dll.

Poin terakhir ini sangat penting, apalagi kalau kamu bekerja menggunakan project management tools seperti ClickUp, dkk. Mengubah status task menjadi "Done" saja tanpa jejak, jelas tidak cukup.

Don't just report, interpret

Oftentimes, bos kamu sibuk. Ketika dia melihat report dari kamu, dia pasti akan skimming terlebih dahulu. Nah, ketika di tahap ini report kamu kurang konteks atau membingungkan, ini akan jadi masalah. Ended up membuang-buang waktu semua orang.

Lanjutan poin sebelumnya, biasakan menambahkan konteks. Berikan key takeaways di depan, buat section TL;DR, dan jika relevan, gunakan visualisasi data yang tepat untuk menghemat waktu. Don't just report, interpret.

Frameworknya adalah selalu tanya ke diri sendiri terlebih dahulu 2 pertanyaan ini:

  • Why?
  • So, what?

Dari situ, coba posisikan diri kamu sebagai bos atau penerima report-nya. Niscaya, akan banyak hal-hal yang bisa dijelaskan dengan lebih baik, butuh tambahan konteks, dsb.

Bos saya pernah berkata:

"Mau, you were hired as a senior so I can delegate and save my time. If I have to deep dive and spend a lot of time every time you share something, if I have to QA all your work, what’s the point of hiring you? Better if I just did it myself."

Pedas, tetapi begitulah kenyataannya.

Come with solutions, or at least suggestions

Ketika kamu lihat dapur kebakaran:

  1. Jangan cuma dilihat
  2. Kabari orang lain
  3. Coba padamkan

Kalau tahu akan ada kabar buruk, jangan cuma disampaikan, kasih saran kira-kira apa yang bisa dilakukan, perlu reactive atau tidak, dst.

Kerja remote harus bisa mandiri, termasuk mencari solusi dan tidak perlu nunggu untuk disuruh-suruh. Tidak semua orang bisa langsung diajak huddle saat itu juga.

Jangan jadi kurir pembawa berita saja, jadilah problem solver.

Jangan biarkan percakapan berakhir di sebuah masalah. Ketika kamu membiasakan diri datang membawa opsi, kamu menghemat waktu semua orang dan membuktikan bahwa kamu layak digaji mahal.

Own your mistakes immediately

Ini pernah kejadian di saya. Di case saya, saya tidak sengaja menghapus semua data keywords dan brief di Surfer yang di-track oleh tim konten. Sebenarnya tidak terlalu fatal, karena semua brief tersebut sudah jadi konten dan kontennya sudah di-publish. Namun, ini hasil kerja dan log mereka selama berbulan-bulan, jadi sayang saja. Kalau masih ada, akan sangat lumayan untuk jadikan referensi.

Sebenarnya tidak ada yang bisa dilakukan lagi selain mengaku dan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi.

Intinya, seperti poin sebelumnya, always try to come with solutions, or at least suggestions. Kamu sudah salah. Own it. Apa yang bisa diperbaiki, bagaimana agar tidak terjadi lagi, dst.

Kalau dipikir-pikir lagi, kesalahan ini tidak akan terjadi kalau overcommunicate. Lesson learned.


Yup, itu dia beberapa pelajaran atau tips dari pekerja remote. Semoga bermanfaat.

kthxbye.

Komentar